Harap Tunggu ....

Change Color

IMG_20220728_194003 (1).jpg

Kesenian Pojhiân

Kesenian Pojhiân  merupakan salah satu kesenian khas Suku Madura di Bondowoso yang bertujuan untuk meminta permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa, misalnya meminta hujan, perlindungan dari wabah penyakit, dan penolak bala’. Pojhiân  berasal kata “Pamojjen” yang berarti pemujaan yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena telah memberikan nikmat dan karunianya.

Pojhiân  termasuk ke dalam serangkaian kegiatan bersih desa atau yang biasa disebut Ghadisa. Ghadisa merupakan wujud penghormatan kepada nenek moyang atau leluhur, yang dapat dilakukan dengan cara mempersembahkan hasil bumi. Masyarakat setempat mempercayai bahwa tujuan dari pelaksanaan Ghadisa sendiri ialah untuk melindungi masyarakat dari bencana. Umumnya, Ghadisa dilaksanakan setiap bulan kedelapan pada sistem penanggalan Madura atau bulan Rebbe.

Sebagai suatu warisan leluhur, Pojhiân  dapat diklasifikasikan ke dalam folklor sebagian lisan. Folklor sebagian lisan ini dapat dimaknai sebagai suatu tradisi yang diwariskan secara lisan dan juga tindakan. Bentuk warisan ini dapat tampak melalui pelaksanaan ritual Pojhiân  itu sendiri yang akan memadukan tari-tarian, musik, doa, dan atraksi atau akrobat. Kesenian Pojhiân  secara resmi biasanya akan dilaksanakan di tanah lapang oleh kurang lebih 25 orang pemain yang terdiri atas dua pemain musik, dua orang pawang, perapal doa, dan dua orang pemain akrobat. Akrobat tersebut dilakukan di atas bambu dengan diiringi seperangkat gamelan Madura yang terdiri dari saron, rebana, gong, tong drum, dan perkusi.

Ritual Pojhiân  ini akan diawali dengan menancapkan dua batang bambu atau lebih ke tanah. Selanjutnya, para pemain akan duduk melingkar dan melantunkan mantra-mantra ritual berupa tembang-tembang wajib ataupun tembang tambahan secara akapela maupun dengan iringan gamelan. Lantunan musik yang mengiringi jalannya ritual ini cenderung disajikan dengan tempo yang cepat serta nada yang bersemangat. Namun, akan terdapat suatu momen di mana iringan-iringan musik berubah menjadi tenang dan hanya memanfaatkan iringan acapella atau hanya iringan vocal dari para pemain. Fase tersebut biasa disebut sebagai fase macapat.

Terdapat sebelas tembang yang wajib dihadirkan setiap berlangsungnya ritual Pojhiân Adapun tembang tersebut meliputi tembang (1) Sandur Pandek, (2) Sandur Lanjeng, (3) Temang Anak, (4) Temang Songkar, (5) Cak Pande, (6) Mennoran, (7) Gunung mantak, (8) Ser-seran, (9) Rennangade, (10) Songkar Naren, (11) Kembeng sannik. Tepat ketika tembang keenam dinyanyikan, maka permainan akrobatik pun mulai dilakukan. Permainan akrobatik ini akan dilakukan oleh mereka yang telah terlatih untuk beratraksi di atas batang bambu. Pemain tersebut akan menaiki sebatang bambu dan menari di atasnya. Ketika melakukan atraksi, para pemain akan diibaratkan sebagai anoman. Pada saat itu pula, para Pawang atau Pembaca Doa mulai memanjatkan doa sambal bergerak memutar mengelilingi bambu hingga keinginan yang dipanjatkan terkabul. Selain permainan akrobatik dan iringan gamelan, rangkaian kegiatan dalam seni Pojhiân  juga akan menampilkan lantunan tembang dengan iringan dari ronjengan atau gilisan batu.

Namun, pada kenyataannya, kesenian Pojhiân  tidak selalu disajikan secara utuh ataupun resmi dengan keseluruhan rangkaian akrobatik. Sebagaimana di Desa Karang Sengon, kesenian Pojhiân  dapat disajikan secara sebagian, yakni hanya dengan memanjatkan doa-doa serta melantunkan tembang-tembang yang diiringi oleh alunan gamelan. Di desa ini sendiri, kesenian Pojhiân  umumnya dilakukan di Dusun Blangguan. Para pemain yang terlibat dalam kesenian ini terdiri atas para laki-laki yang menggunakan baju pesa’an Madura atau pakaian adat khas Madura.

Oleh karena rangkaian kegiatannya tidak begitu kompleks, di Desa Karang Sengon ritual Pojhiân  dapat dilaksanakan setelah isya’ atau sekitar jam tujuh malam. Tidak jauh berbeda dengan ritual resminya, Pojhiân  di Desa Karang Sengon juga dilakukan di tanah lapang dengan para pemain duduk melingkar terlebih dahulu. Dalam lingkaran para pemain juga disajikan beberapa makanan yang dapat disimbolkan sebagai hasil bumi. Kegiatan kemudian diawali dengan lantunan doa-doa secara Islam. Barulah setelah rangkaian doa selesai dipanjatkan kepada Yang Maha Kuasa, para pemain akan menyanyikan lantunan tembang yang diiringi alunan gamelan. Ketika itulah para pemain secara bergantian akan menari. Tepat ketika alunan tembang habis dinyanyikan, makanan yang telah dikumpulkan dibagikan kepada masyarakat sekitar. 

 

Ada pertanyaan silahkan hubungi kami

Hubungi Kami di (0000) 000 000