Kubur Bilik

      Merupakan ceruk-ceruk yang dibuat pada tebing-tebing batu. Kubur Bilik Batu yang terdapat pada Situs Karangsengon berjumlah enam buah, dengan beberapa variasi bentuk.

       Pendirian bangunan megalitik berkaitan juga dengan konsep pemujaaan arwah nenek moyang. Arwah nenek moyang dipercaya oleh masyarakat pendukungnya tinggal dipuncak-puncak gunung. Gunung dianggap sebagai tempat suci, sumber potensi kesuburan, dan sumber kehidupan. Dari gunung mengalir air sungai yang memberi kehidupan sawah, ladang, binatang dan semua makluk hidup di dunia. Konsep ini juga tercermin pada pemilihan lokasi bangunan megalitik di Situs Karangsengon.

       Pemilihan Lokasi Situs Karangsengon selain dipengaruhi oleh konsep pemujaan nenek moyang, juga dikarenakan kondisi lingkungan yang berbukit-bukit sehingga memungkinkan masyarakat pendukung budaya Megalitik untuk mendirikan bangunan pemakaman dengan membuat ceruk-ceruk makam di dinding bukit. Arah hadap Kubur Bilik Batu juga mengikuti pola alur bukit tersebut.

       Situs Karangsengon diduga merupakan sebuah situs pekuburan/pemakaman pada jaman Megalitik. Terdapat Patung Arca Megalitik sebagai simbol/sarana pemujaan dari nenek moyang yang telah meninggal serta terdapat Menhir sebagai penjaga dari Arca Megalitik tersebut. Serta enam buah Kubur Bilik Batu yang letaknya saling berdekatan berbentuk mengelilingi Arca Megalitik dan Menhir. Kemungkinan Arca Megalitik dan Menhir di Situs Karangsengon merupakan pusat dari Kubur-Kubur Bilik Batu yang berada disana.

Source : Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bondowoso

Lokasi : Dusun Sumber
Lokasi : Dusun Sumber
Lokasi : Dusun Sumber
Lokasi : Dusun Sumber
Lokasi : Dusun Sumber
Lokasi : Dusun Sumber