Ojung

     Bersama datangnya musim kemarau, banyak penduduk dari berbagai daerah di Indonesia berbondong-bondong melakukan ritual tertentu guna mendatangkan hujan. Di Indonesia sendiri terdapat berbagai ritual untuk memanggil hujan tergantung wilayah asalnya. Ritual tersebut umumnya dilaksanakan demi kepentingan pertanian, mengingat banyaknya jumlah penduduk yang berprofesi sebagai petani di Indonesia. Ketika musim kemarau datang, tak sedikit sawah-sawah di berbagai wilayah mengalami kesulitan dalam pengairan, oleh karena itu ritual untuk memanggil hujan menjadi hal yang  penting kala musim kemarau.

     Salah satu ritual untuk memanggil hujan yang ada di Indonesia ajalah ritual Ojung yang berasal dari Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Meskipun ritual Ojung terkenal berasal dari Bondowoso, ternyata ritual serupa juga dilakukan di wilayah Tengger, wilayah Gunung Semeru dan juga di Madura. Namun terdapat perbedaan antara ritual Ojung di Bondowoso dengan wilayah lainnya, yaitu tanggal pelaksanaannya. Jika di Tengger, ritual tersebut dilakukan pada hari raya Karo, sedangkan di Bondowoso berlangsung setelah acara Ghadisa yang bertujuan untuk menjauhkan desa dari bencana.

      Ritual Ojung merupakan ritual yang terbilang cukup mengerikan karena para petarung diharuskan untuk meneteskan darah demi mendatangkan hujan. Umumnya laki-laki yang diperbolehkan mengikuti ritual tersebut berumur 21 hingga 50 tahun, namun dewasa ini, laki-laki berumur 10 hingga 20 tahun juga diperbolehkan mengikuti ritual Ojung. Cara melakukan ritual Ojung adalah dua laki-laki berhadapan dengan memegang rotan dan bertelanjang dada, sembari mengikuti alunan musik, keduanya saling mencambuk dengan rotan yang mereka pegang. Setiap cambukan akan menghasilkan sebuah luka yang cukup dalam hingga mampu mengeluarkan darah dan tetesan darah tersebut diharapkan akan membawa hujan ke wilayah mereka. Terdapat sebuah aturan lain dimana petarung tidak diperbolehkan mengarahkan rotan ke area wajah atau kepala dan juga kaki. Dalam ritual ini terdapat seorang wasit yang mengawasi jalannya pertarungan serta seorang pendamping para petarung dan dua orang lainnya untuk menandai luka-luka pada tubuh petarung.Ketika pertarungan selesai, para petarung diharuskan untuk tetap bergoyang sembari bersalaman sebagai tanda tidak ada rasa dendam antar keduanya.

Source: Ketua Kesenian Ojung.