Kesenian Pojhien

Desa Karang Sengon merupakan salah satu desa di Kabupaten Bondowoso yang mempunyai banyak sekali kesenian adat atau tradisi, salah satu diantaranya adalah kesenian Pojhien. Kesenian Phojien adalah kesenian yang berisikan permohonan yang dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Pojhien berasal dari bahasa madura yang artinya doa. Mulanya, kesenian pojhien ditujukan untuk memohon kepada Yang Maha Kuasa agar diberikan kemakmuran, kesehatan, dan keamanan. Namun, sekarang kesenian pojhien digunakan hanya pada acara-acara besar saja, seperti saat perayaan hari ulang tahun desa dan pada perayaan kemerdekaan seperti sekarang ini.

Struktur penyajian kesenian Pojian terdiri dari pertama pawang, kedua penembang yaitu tokoh yang mengendalikan alur permainan. Ketiga, penari yang menyiratkan sosok kependekaran dengan melakukan berbagai atraksi ketangkasan dengan sebatang bambu. Keempat, penari pengiring yang menjaga dinamika permainan dan terus melantukan puji-pujian sembari duduk melingkar. Kelima, penabuh gendang.

Kesenian pojhien dulu digunakan untuk memintaberkah berupa meminta hujan, kesembuhan, kesuburan dan hasil yang melimpah. Masyarakat membacakan doa pada setiap persimpangan desa. Musik yang digunakan sebagai iringan pojhien adalah musik mulut dan gendang. Selain itu, kesenian ini diisi juga dengan beberapa atraksi yang tidak semua orang bisa melakukannya seperti melempar batu besar dan memanjat bambu yang tinggi. Tarian yang dilakukan sederhana, salah satu atau dua orang menari di tengah dan yang lainnya duduk melingkar sambil bersuara dan mengayunkan tangan mengikuti suara gendang, diartikan sebagai simbol kegotong royongan dan untuk mempererat tali silaturahmi. Keunikan dari kesenian ini adalah saat orang memanjat bambu yang tinggi. Saat memanjat, mereka melakukan beberapa atraksi seperti bergelantungan dan menopangkan diri di ujung bambu menggunakan perut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *