Seni Kayu Ukir

Tidak hanya kesenian Pojihen dan usaha konveksi, terdapat juga pengerajin ukiran kayu yang ada di Desa Karang Sengon. Bapak Abdurrahman adalah pemahat kayu yang sudah cukup lama menggeluti bidang tersebut hingga ukiran-ukiran kayu yang dihasilkan juga cukup baik dan rapi. Permintaan akan ukiran kayu tidak hanya berasal dari dalam desa, namun juga berasal dari luar desa hingga kota-kota sekitar karena pemesan dapat memilih bentuk ukiran yang mereka inginkan dengan harga yang relatif terjangkau dengan hasil yang cukup memuaskan.
Umumnya Bapak Abdurrahman menggarap ukiran dengan bentuk hewan tetapi bukan berarti beliau hanya menerima permintaan ukiran dengan bentuk tersebut saja, Bapak Abdurrahman juga mampu membuat ukiran-ukiran dengan bentuk manusia dengan berbagai gaya bahkan beliau mau dan mampu mengerjakan ukiran dengan bentuk yang tergolong rumit seperti ukiran superhero Captain America yang memiliki tingkat kerumitan tersendiri. Harga yang dipatok dapat dibilang tidak begitu mahal karena ukiran berbentuk manusia dengan tinggi sekitar 30 senti dijual dengan harga sekitar Rp 150.000 saja.

Kesenian Ojung

Bersama datangnya musim kemarau, banyak penduduk dari berbagai daerah di Indonesia berbondong-bondong melakukan ritual tertentu guna mendatangkan hujan. Di Indonesia sendiri terdapat berbagai ritual untuk memanggil hujan tergantung wilayah asalnya. Ritual tersebut umumnya dilaksanakan demi kepentingan pertanian, mengingat banyaknya jumlah penduduk yang berprofesi sebagai petani di Indonesia. Ketika musim kemarau datang, tak sedikit sawah-sawah di berbagai wilayah mengalami kesulitan dalam pengairan, oleh karena itu ritual untuk memanggil hujan menjadi hal yang  penting kala musim kemarau.

 

Salah satu ritual untuk memanggil hujan yang ada di Indonesia ajalah ritual Ojung yang berasal dari Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Meskipun ritual Ojung terkenal berasal dari Bondowoso, ternyata ritual serupa juga dilakukan di wilayah Tengger, wilayah Gunung Semeru dan juga di Madura. Namun terdapat perbedaan antara ritual Ojung di Bondowoso dengan wilayah lainnya, yaitu tanggal pelaksanaannya. Jika di Tengger, ritual tersebut dilakukan pada hari raya Karo, sedangkan di Bondowoso berlangsung setelah acara Ghadisa yang bertujuan untuk menjauhkan desa dari bencana.

 

Ritual Ojung merupakan ritual yang terbilang cukup mengerikan karena para petarung diharuskan untuk meneteskan darah demi mendatangkan hujan. Umumnya laki-laki yang diperbolehkan mengikuti ritual tersebut berumur 21 hingga 50 tahun, namun dewasa ini, laki-laki berumur 10 hingga 20 tahun juga diperbolehkan mengikuti ritual Ojung. Cara melakukan ritual Ojung adalah dua laki-laki berhadapan dengan memegang rotan dan bertelanjang dada, sembari mengikuti alunan musik, keduanya saling mencambuk dengan rotan yang mereka pegang. Setiap cambukan akan menghasilkan sebuah luka yang cukup dalam hingga mampu mengeluarkan darah dan tetesan darah tersebut diharapkan akan membawa hujan ke wilayah mereka. Terdapat sebuah aturan lain dimana petarung tidak diperbolehkan mengarahkan rotan ke area wajah atau kepala dan juga kaki. Dalam ritual ini terdapat seorang wasit yang mengawasi jalannya pertarungan serta seorang pendamping para petarung dan dua orang lainnya untuk menandai luka-luka pada tubuh petarung.

 

Ketika pertarungan selesai, para petarung diharuskan untuk tetap bergoyang sembari bersalaman sebagai tanda tidak ada rasa dendam antar keduanya.

Kesenian Pojhien

Desa Karang Sengon merupakan salah satu desa di Kabupaten Bondowoso yang mempunyai banyak sekali kesenian adat atau tradisi, salah satu diantaranya adalah kesenian Pojhien. Kesenian Phojien adalah kesenian yang berisikan permohonan yang dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Pojhien berasal dari bahasa madura yang artinya doa. Mulanya, kesenian pojhien ditujukan untuk memohon kepada Yang Maha Kuasa agar diberikan kemakmuran, kesehatan, dan keamanan. Namun, sekarang kesenian pojhien digunakan hanya pada acara-acara besar saja, seperti saat perayaan hari ulang tahun desa dan pada perayaan kemerdekaan seperti sekarang ini.

Struktur penyajian kesenian Pojian terdiri dari pertama pawang, kedua penembang yaitu tokoh yang mengendalikan alur permainan. Ketiga, penari yang menyiratkan sosok kependekaran dengan melakukan berbagai atraksi ketangkasan dengan sebatang bambu. Keempat, penari pengiring yang menjaga dinamika permainan dan terus melantukan puji-pujian sembari duduk melingkar. Kelima, penabuh gendang.

Kesenian pojhien dulu digunakan untuk memintaberkah berupa meminta hujan, kesembuhan, kesuburan dan hasil yang melimpah. Masyarakat membacakan doa pada setiap persimpangan desa. Musik yang digunakan sebagai iringan pojhien adalah musik mulut dan gendang. Selain itu, kesenian ini diisi juga dengan beberapa atraksi yang tidak semua orang bisa melakukannya seperti melempar batu besar dan memanjat bambu yang tinggi. Tarian yang dilakukan sederhana, salah satu atau dua orang menari di tengah dan yang lainnya duduk melingkar sambil bersuara dan mengayunkan tangan mengikuti suara gendang, diartikan sebagai simbol kegotong royongan dan untuk mempererat tali silaturahmi. Keunikan dari kesenian ini adalah saat orang memanjat bambu yang tinggi. Saat memanjat, mereka melakukan beberapa atraksi seperti bergelantungan dan menopangkan diri di ujung bambu menggunakan perut.